Langsung ke konten utama

Postingan

Menguatkan Partisipasi Semesta: Peran Pustakawan dan Perpustakaan

Oleh PD IPI Provinsi Gorontalo Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah kerja satu pihak. Ia tumbuh dari keterlibatan bersama—dan dalam jejaring itu, perpustakaan hadir sebagai ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan terus hidup. Di sanalah pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan dan dibagikan. Peran itu menemukan wujudnya melalui pustakawan. Mereka bukan sekadar pengelola koleksi, melainkan penggerak literasi, pendamping belajar, sekaligus penjaga kualitas informasi. Pustakawan menjembatani masyarakat dengan sumber pengetahuan yang relevan, membantu memilah informasi di tengah derasnya arus digital, serta menghadirkan perpustakaan sebagai ruang yang ramah, aktif, dan bermakna bagi semua kalangan. Dengan demikian, perpustakaan dan pustakawan menjadi simpul penting dalam partisipasi semesta pendidikan. Ketika keduanya didukung dan dilibatkan s...

Ketika Formalitas Mengalahkan Substansi: Menguji Nalar Hukum dalam Seleksi Perangkat Desa

Oleh: Yusron Humonggio Pustakawan Ahli Universitas Muhammadiyah Gorontalo Pembuka Kadang, yang paling bising bukanlah yang paling benar. Di tengah riuhnya suara, desakan, dan narasi yang saling bersahutan, kebenaran justru sering berdiri diam—menunggu untuk dibaca dengan kepala dingin, bukan sekadar didengar dengan emosi. Dalam banyak peristiwa publik, kita menyaksikan bagaimana sesuatu yang telah melalui proses panjang dan terukur dapat dipersoalkan kembali hanya karena satu celah kecil dalam administrasi. Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: apakah kekurangan administratif cukup untuk menggugurkan keseluruhan proses yang secara substansi telah berjalan benar? Di titik inilah nalar hukum diuji—bukan oleh aturan semata, tetapi oleh cara kita memahaminya. Pendahuluan Saya bukan pakar hukum. Namun sebagai pustakawan ahli, saya terbiasa menelusuri, membaca, dan mengompilasi berbagai sumber ilmiah untuk menghadirkan pemahaman yang lebih jernih kepada masyarakat. Dalam kapasitas te...

Dinamika Legitimasi dan Kontestasi Hasil Seleksi Kepala Dusun: Antara Prosedur, Persepsi, dan Tekanan Sosial

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd Pegiat Literasi Desa Dalam praktik tata kelola pemerintahan desa, proses seleksi perangkat desa termasuk Kepala Dusun bukan sekadar mekanisme administratif, melainkan ruang kontestasi kepentingan, legitimasi, dan persepsi publik. Ketika hasil seleksi telah ditetapkan melalui prosedur yang terukur dan terdokumentasi, idealnya proses tersebut berakhir pada penerimaan kolektif. Namun, realitas di lapangan sering menunjukkan hal yang berbeda: hasil formal tidak selalu identik dengan penerimaan sosial. Kondisi ini tampak dalam dinamika yang berkembang pada seleksi Kepala Dusun Toluludu di Desa Botumoputi. Proses seleksi yang secara administratif telah dilaksanakan melalui tahapan terstruktur dengan keterlibatan tim teknis dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), penggunaan instrumen penilaian, serta dituangkan dalam dokumen resmi berupa lampiran hasil penilaian dan berita acara—justru menghadapi gelombang penolakan dari sebagian pihak. Penolakan terseb...

Deteksi Hoaks via AI: Peran Pustakawan dan Pegiat Literasi di Era Informasi Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital, hoaks hadir sebagai tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Pesan berantai, klaim kesehatan tanpa dasar, hingga informasi yang tampak meyakinkan sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta. Dalam konteks ini, pustakawan dan pegiat literasi memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kualitas informasi di masyarakat. Salah satu pendekatan baru yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu deteksi hoaks. Mengapa Hoaks Mudah Menyebar? Hoaks tidak selalu terlihat sebagai kebohongan. Justru sebaliknya, ia sering dikemas dengan ciri-ciri berikut: Menggunakan nama tokoh, profesor, atau institusi terkenal tanpa sumber jelas Mengandung klaim yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan (misalnya: menyembuhkan semua penyakit) Menggunakan bahasa emosional atau mendesak Disertai ajakan untuk menyebarkan informasi Kombinasi ini membuat masyarakat mudah percaya, apala...

Menggabungkan Perpustakaan? Hati-Hati, Kita Sedang Mengerdilkan Masa Depan

Efisiensi anggaran sedang menjadi arus besar di banyak pemerintah daerah. OPD dirampingkan, struktur digabung, belanja ditekan. Secara administratif, langkah ini bisa dipahami. Pemerintah memang dituntut bekerja efektif dan hemat. Namun ketika wacana penggabungan menyentuh OPD Perpustakaan , kita perlu bertanya dengan serius: apakah kita sedang menata birokrasi, atau tanpa sadar sedang mengerdilkan masa depan? Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi buku. Ia adalah ruang tumbuh masyarakat. Di sanalah anak-anak belajar bermimpi. Di sanalah pelajar mencari referensi. Di sanalah pelaku UMKM mencari inspirasi usaha. Di sanalah warga belajar literasi digital agar tidak mudah terjebak hoaks. Jika pembangunan hanya dimaknai sebagai jalan, gedung, dan proyek fisik, maka perpustakaan memang tampak kecil. Tetapi jika pembangunan dimaknai sebagai peningkatan kualitas manusia, maka perpustakaan justru berada di jantungnya. Daerah yang maju bukan hanya yang infrastrukturnya kokoh, tetapi yang m...

Peta Jalan Perpustakaan Resilien: Dari Rutinitas Birokrasi Menuju Ekosistem Literasi Daerah

Perpustakaan daerah hari ini berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih tetap nyaman dalam rutinitas administratif—atau bertransformasi menjadi organisasi yang tangguh, adaptif, dan relevan. Gedung mungkin berdiri. Program mungkin berjalan. Laporan mungkin selesai tepat waktu. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah perpustakaan kita sedang bertumbuh, atau hanya bertahan? Dalam konteks perubahan sosial, digitalisasi, dan tuntutan literasi abad ke-21, perpustakaan tidak lagi cukup menjadi unit kerja yang patuh prosedur. Ia harus menjadi organisasi resilienyakni organisasi yang mampu membaca perubahan, belajar dari tantangan, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Fondasi Filosofis Resiliensi Perpustakaan Konsep resiliensi bukan sekadar jargon manajemen modern. Ia memiliki landasan teoritis yang kuat. Pertama, teori sistem terbuka dari Ludwig von Bertalanffy menegaskan bahwa organisasi hidup karena interaksinya dengan lingkungan. Jika lingkungan berubah dan organ...

Ketika Anak Bisa “Membaca”, Tapi Sebenarnya Belum

Suatu pagi di kelas dua sekolah dasar, seorang anak diminta membaca sebuah paragraf pendek. Ia mengeja perlahan, berhenti di beberapa kata, lalu melanjutkan lagi. Di akhir bacaan, guru tersenyum dan berkata, “Sudah bagus, lanjut latihan ya.” Anak itu naik ke kelas berikutnya. Namun beberapa tahun kemudian, ia kesulitan memahami soal cerita matematika. Ia lambat membaca teks pelajaran. Ia terlihat tidak percaya diri ketika diminta membaca keras di depan kelas. Masalahnya bukan di kelas lima. Masalahnya bukan pada soal yang sulit. Masalahnya mungkin sudah ada sejak kelas dua — ketika kemampuan dasarnya belum benar-benar kokoh. Itulah yang disebut decoding : kemampuan mengubah huruf menjadi bunyi secara tepat dan lancar. Ini adalah fondasi membaca. Jika fondasi ini tidak kuat, bangunan di atasnya akan goyah. Sayangnya, di Indonesia, kita belum memiliki sistem evaluasi decoding yang benar-benar terstruktur dan konsisten di kelas awal. Guru tentu menilai. Guru tentu memperhatikan. N...