Langsung ke konten utama

Postingan

ASTA ETIKA PUSTAKAWAN: MENJAGA INTEGRITAS DI ERA HAK CIPTA

Koleksi Infografis Edukasi Anak Koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Bolmong Utara .   Dirancang dengan dukungan teknologi Artificial AI) di bawah kurasi pustakawan Asta Etika Pustakawan bukan sekadar delapan butir norma, melainkan kompas moral dalam menjalankan profesi secara bermartabat. Salah satu nilai penting yang sering luput disadari adalah penghormatan terhadap karya intelektual orang lain, sekecil apa pun bentuknya. Dalam praktik pembinaan perpustakaan—termasuk kepada perpustakaan binaan—pustakawan tidak dibenarkan membagikan, menggandakan, atau menyebarluaskan karya orang lain tanpa izin. Tindakan tersebut bukan hanya bertentangan dengan etika profesi, tetapi juga beririsan langsung dengan hak cipta yang kini semakin tegas diatur, termasuk dalam KUHP terbaru. Di era digital, niat baik sering kali terjebak pada jalan pintas: membagikan materi instan demi cepat, praktis, dan dianggap membantu. Padahal, tanpa disadari, hal itu dapat mencederai integritas pustakawan dan...

DARI PENJAGA RAK KE ARSITEK LITERASI : WAJAH BARU TENAGA PERPUSTAKAAN PASCA PERMENDIKDASMEN 21/2025

Selama bertahun-tahun, tenaga perpustakaan kerap dipersepsikan sekadar sebagai pengelola buku dan ruang baca. Namun, Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 menghadirkan perubahan mendasar: tenaga perpustakaan kini ditempatkan sebagai aktor strategis dalam ekosistem pembelajaran dan literasi . Regulasi ini menegaskan bahwa tenaga perpustakaan merupakan bagian dari Tenaga Kependidikan Selain Pendidik , dengan tugas utama mengelola perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Menariknya, regulasi baru ini tidak lagi menekankan kualifikasi akademik yang kaku , melainkan mengedepankan kompetensi berbasis performa : kepribadian, sosial, dan profesional. Pada aspek kepribadian , tenaga perpustakaan dituntut menjadi teladan literasi—berintegritas, reflektif, dan berorientasi pada mutu layanan. Artinya, perpustakaan tidak lagi netral dan pasif, tetapi aktif menumbuhkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan eksplorasi mandiri peserta didik. Dari sisi kompetensi sosial , tenaga perpustakaan didoro...

Era BANI: Kerangka Global Baru dan Implikasinya bagi Perpustakaan Daerah

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Istilah BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) pertama kali diperkenalkan oleh Jamais Cascio , seorang futuris global, sebagai pengembangan dari konsep VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous). Jika VUCA menggambarkan dunia yang tidak stabil, maka BANI menggambarkan dunia yang sudah melewati titik ketidakstabilan dan memasuki fase rapuh, emosional, dan sulit dipahami secara rasional. Era BANI muncul sebagai dampak dari: percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, krisis global (pandemi, geopolitik, iklim), disrupsi ekonomi dan perubahan sosial yang sangat cepat, serta meningkatnya ketimpangan akses informasi. Dalam konteks ini, perpustakaan daerah tidak lagi berada di pinggir perubahan , melainkan berada di titik krusial sebagai institusi yang menjaga daya tahan sosial (social resilience). 1. Brittle (Rapuh): Ketahanan Sistem yang Semu Secara global, banyak institusi publik terlihat kokoh secara struktu...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...

PUSTAKAWAN, BERHENTI JADI PENJAGA KOLEKSI! JADILAH ARSITEK RUANG KETERHUBUNGAN.

   "  Perpustakaan tidak mati, melainkan sedang membuka lembaran baru. Ia tidak lagi hanya menyimpan buku, tetapi bertransformasi menjadi simpul hati yang menghubungkan ide, komunitas, dan pengetahuan sebuah kebangkitan yang mengajak kita melepaskan cara lama agar dapat menyapa kebutuhan manusia hari ini."      Suatu hari saya duduk cukup lama di perpustakaan. Rak buku rapi, ruangan bersih, meja tersusun sempurna. Namun ada satu yang terasa hilang, manusia. Tidak ada langkah kaki tergesa, tidak ada suara anak bertanya, tidak ada wajah yang menunduk membaca. Sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tetapi sunyi yang menimbulkan tanya,  ke mana semua orang pergi? Pertanyaan itu mungkin juga sedang bergema di banyak perpustakaan hari ini.      Ketika Sepi Bukan Berarti Gagal Kita perlu jujur mengakui satu hal penting, sepinya perpustakaan bukan tanda orang berhenti membaca. Orang masih belajar, masih mencari informasi, masih berdiskusi hanya ...

Ketika perpustakaan mulai bicara lewat layar

Perpustakaan selama ini identik dengan rak buku dan ruang baca yang tenang. Tapi zaman terus bergerak. Anak-anak dan remaja hari ini lebih sering berjumpa layar lebih dulu sebelum halaman buku. Dari situ muncul satu pertanyaan sederhana: apakah perpustakaan harus diam, atau ikut berbicara di ruang yang mereka tempati? Dari kegelisahan itulah muncul gagasan menghadirkan channel YouTube sebagai bagian dari layanan perpustakaan. Bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperluas cara kita berbagi pengetahuan dan pencerahan. Melalui video singkat berdurasi tiga sampai empat menit, perpustakaan mencoba “bercerita”. Bercerita tentang buku-buku bermutu, termasuk novel-novel lama yang sarat makna. Bukan dengan membacakan isinya, melainkan dengan mengulas gagasan, nilai, dan relevansinya dengan kehidupan hari ini. Dibantu ilustrasi visual yang menarik, konten ini diharapkan lebih dekat dengan generasi muda. Buku-buku lama sesungguhnya tidak pernah benar-benar usang. Yang sering terjadi, ...

Surat Terbuka "Rencana Program Strategis IPI Provinsi Gorontalo 2026"

Memastikan Kesiapan Pustakawan Sekolah Menyongsong Standar Permendikdasmen No. 21 Tahun 2025. Memperkuat Peran Perpustakaan Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran Yth. Bapak/Ibu Kepala Sekolah se-Provinsi Gorontalo, Kami dari Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Gorontalo menyadari bahwa perpustakaan bukan lagi hanya tempat penyimpanan buku, melainkan jantung literasi dan inovasi pembelajaran di sekolah. Keberhasilan implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan sangat bergantung pada sumber daya dan kompetensi Tenaga Perpustakaan yang profesional. Oleh karena itu, Rencana Program Kerja IPI 2026 secara khusus didedikasikan untuk mendukung Bapak/Ibu Kepala Sekolah dalam memastikan Tenaga Perpustakaan di sekolah Anda memenuhi Standar Kompetensi Tenaga Kependidikan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 21 Tahun 2025 . Berikut adalah tiga pilar program IPI yang dirancang untuk memberikan dampak langsung dan terukur bagi peningkatan mutu di s...