Langsung ke konten utama

Postingan

9 KESALAHAN BESAR PERPUSTAKAAN UMUM YANG MEMBUATNYA PERLAHAN DITINGGALKAN

Perpustakaan umum sesungguhnya tidak sedang kekurangan gedung. Tidak juga kekurangan rak buku, meja baca, atau kegiatan seremonial. Namun ada sesuatu yang perlahan hilang: relevansi. Di tengah dunia yang bergerak cepat, banyak perpustakaan masih berjalan dengan pola lama. Sementara masyarakat berubah, cara belajar berubah, cara membaca berubah, bahkan cara manusia mencari pengetahuan pun berubah. Ironisnya, sebagian perpustakaan masih merasa baik-baik saja. Padahal tanda-tanda krisis itu mulai terlihat: pengunjung berkurang, generasi muda semakin jauh, kegiatan ramai tetapi dampaknya kecil, dan perpustakaan perlahan kehilangan posisi pentingnya di tengah masyarakat. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perpustakaan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan sekaligus harapan bahwa perpustakaan masih bisa bangkit jika berani berubah. Karena ancaman terbesar perpustakaan hari ini bukan era digital, melainkan kenyamanan dalam stagnasi. 1. TERLALU SIBUK MENJAGA BUKU, LUPA MENJA...

"Jangan Hanya Berkata Itu AI”

Catatan Kegelisahan Seorang Pustakawan di Era Lompatan Kecerdasan Buatan Perkembangan Artificial Intelligence (AI) hari ini telah melahirkan perubahan besar dalam cara manusia membaca, menulis, menerjemahkan, dan memproduksi pengetahuan. Namun di balik perkembangan itu, muncul pula kegelisahan baru, terutama di kalangan pegiat literasi, peneliti independen, dan pustakawan yang mulai memanfaatkan AI dalam kerja-kerja intelektual mereka. Tulisan ini lahir dari pengalaman dan diskusi panjang seorang pustakawan yang selama ini bergelut dengan dokumen-dokumen lama, budaya lokal, serta pemanfaatan AI dalam membantu penelusuran dan penyusunan kajian budaya. Di tengah percepatan teknologi hari ini, sering muncul respons yang cukup menyakitkan: “Ah, itu kan AI.” Kalimat tersebut sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana masyarakat akademik memandang perubahan cara produksi pengetahuan di era baru. AI dan Tuduhan yang Terlalu Cepat Hari ...

AI, Tradisi Lisan, dan Masa Depan Kepenulisan Budaya

Sebuah Ulasan Awal untuk Dikaji Bersama Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia literasi dan kepenulisan. Jika sebelumnya AI dipandang hanya sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, merangkum teks, atau menyusun struktur tulisan, kini kemampuannya berkembang jauh lebih kompleks. AI mulai mampu menangkap nuansa emosional, konteks budaya, bahkan atmosfer tradisi lokal melalui prompt yang kaya dan terarah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting yang layak dikaji secara serius oleh akademisi, pegiat budaya, pustakawan, penulis, dan para pakar literasi: Apakah AI mulai mampu membantu merepresentasikan pengalaman budaya dan tradisi lisan yang selama ini dianggap sangat manusiawi? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar wacana teknologi, tetapi sudah menjadi kenyataan yang muncul dalam praktik sehari-hari. AI dan Kemampuan Menangkap “Rasa” Budaya Dalam pengalaman berbagai pengguna, termasuk pegiat literasi da...

Refleksi Lama yang Masih Relevan untuk Nilai Literasi Hari Ini

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd Sekitar awal tahun 2000, pada masa awal Reformasi, saya pernah terlibat dalam sebuah program penguatan perencanaan pendidikan yang didukung oleh JICA, lembaga kerja sama dari Jepang. Program itu mendorong sekolah dan masyarakat ikut bersama-sama merencanakan pengembangan pendidikan di daerah. Dalam program tersebut saya bekerja bersama seorang konsultan Jepang bernama Naomi. Ia sangat lancar berbahasa Indonesia dan memiliki cara melihat sekolah yang berbeda dari kebanyakan orang. Suatu hari Naomi mengajak saya berkeliling mengunjungi sekolah-sekolah. Selama dua hari kami mendatangi sekitar sepuluh sekolah. Yang menarik, ia hampir tidak melakukan wawancara dengan guru atau kepala sekolah. Ia lebih banyak berjalan, mengamati suasana sekolah, melihat kegiatan siswa saat istirahat, dan sesekali masuk ke kelas untuk melihat proses pembelajaran. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang waktu itu mungkin tidak terlalu kami sadari: apakah siswa membawa buku, apak...

“Gorontalo di 10 Besar Nasional: Fondasi Kuat Menuju Lompatan Literasi”

Oleh : (Yusron Humonggio) Gorontalo kembali mencatatkan capaian yang patut diapresiasi. Dalam rilis terbaru Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 , provinsi ini menempati peringkat ke-8 nasional. Sebuah posisi yang, di atas kertas, menandakan kemajuan signifikan dalam pembangunan literasi. Di tengah berbagai keterbatasan daerah, capaian ini tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil dari kerja panjang—dari pembangunan perpustakaan, penyediaan koleksi buku, hingga berbagai program literasi yang terus digalakkan. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang literat? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebab di balik angka yang tampak menggembirakan itu, terdapat kenyataan lain yang tidak kalah penting: minat baca masyarakat Gorontalo masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia. Fakta ini menghadirkan ironi yang sulit diabaikan—ketika indikator pembangunan literasi meningkat, tetapi pr...

Menguatkan Partisipasi Semesta: Peran Pustakawan dan Perpustakaan

Oleh PD IPI Provinsi Gorontalo Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” mengingatkan bahwa pendidikan bukanlah kerja satu pihak. Ia tumbuh dari keterlibatan bersama—dan dalam jejaring itu, perpustakaan hadir sebagai ruang belajar yang terbuka, inklusif, dan terus hidup. Di sanalah pengetahuan tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan dan dibagikan. Peran itu menemukan wujudnya melalui pustakawan. Mereka bukan sekadar pengelola koleksi, melainkan penggerak literasi, pendamping belajar, sekaligus penjaga kualitas informasi. Pustakawan menjembatani masyarakat dengan sumber pengetahuan yang relevan, membantu memilah informasi di tengah derasnya arus digital, serta menghadirkan perpustakaan sebagai ruang yang ramah, aktif, dan bermakna bagi semua kalangan. Dengan demikian, perpustakaan dan pustakawan menjadi simpul penting dalam partisipasi semesta pendidikan. Ketika keduanya didukung dan dilibatkan s...

Ketika Formalitas Mengalahkan Substansi: Menguji Nalar Hukum dalam Seleksi Perangkat Desa

Oleh: Yusron Humonggio Pustakawan Ahli Universitas Muhammadiyah Gorontalo Pembuka Kadang, yang paling bising bukanlah yang paling benar. Di tengah riuhnya suara, desakan, dan narasi yang saling bersahutan, kebenaran justru sering berdiri diam—menunggu untuk dibaca dengan kepala dingin, bukan sekadar didengar dengan emosi. Dalam banyak peristiwa publik, kita menyaksikan bagaimana sesuatu yang telah melalui proses panjang dan terukur dapat dipersoalkan kembali hanya karena satu celah kecil dalam administrasi. Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: apakah kekurangan administratif cukup untuk menggugurkan keseluruhan proses yang secara substansi telah berjalan benar? Di titik inilah nalar hukum diuji—bukan oleh aturan semata, tetapi oleh cara kita memahaminya. Pendahuluan Saya bukan pakar hukum. Namun sebagai pustakawan ahli, saya terbiasa menelusuri, membaca, dan mengompilasi berbagai sumber ilmiah untuk menghadirkan pemahaman yang lebih jernih kepada masyarakat. Dalam kapasitas te...

Dinamika Legitimasi dan Kontestasi Hasil Seleksi Kepala Dusun: Antara Prosedur, Persepsi, dan Tekanan Sosial

Oleh. Yusron Humonggio, M.Pd Pegiat Literasi Desa Dalam praktik tata kelola pemerintahan desa, proses seleksi perangkat desa termasuk Kepala Dusun bukan sekadar mekanisme administratif, melainkan ruang kontestasi kepentingan, legitimasi, dan persepsi publik. Ketika hasil seleksi telah ditetapkan melalui prosedur yang terukur dan terdokumentasi, idealnya proses tersebut berakhir pada penerimaan kolektif. Namun, realitas di lapangan sering menunjukkan hal yang berbeda: hasil formal tidak selalu identik dengan penerimaan sosial. Kondisi ini tampak dalam dinamika yang berkembang pada seleksi Kepala Dusun Toluludu di Desa Botumoputi. Proses seleksi yang secara administratif telah dilaksanakan melalui tahapan terstruktur dengan keterlibatan tim teknis dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), penggunaan instrumen penilaian, serta dituangkan dalam dokumen resmi berupa lampiran hasil penilaian dan berita acara—justru menghadapi gelombang penolakan dari sebagian pihak. Penolakan terseb...

Deteksi Hoaks via AI: Peran Pustakawan dan Pegiat Literasi di Era Informasi Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital, hoaks hadir sebagai tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Pesan berantai, klaim kesehatan tanpa dasar, hingga informasi yang tampak meyakinkan sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta. Dalam konteks ini, pustakawan dan pegiat literasi memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kualitas informasi di masyarakat. Salah satu pendekatan baru yang dapat dimanfaatkan adalah penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu deteksi hoaks. Mengapa Hoaks Mudah Menyebar? Hoaks tidak selalu terlihat sebagai kebohongan. Justru sebaliknya, ia sering dikemas dengan ciri-ciri berikut: Menggunakan nama tokoh, profesor, atau institusi terkenal tanpa sumber jelas Mengandung klaim yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan (misalnya: menyembuhkan semua penyakit) Menggunakan bahasa emosional atau mendesak Disertai ajakan untuk menyebarkan informasi Kombinasi ini membuat masyarakat mudah percaya, apala...

Menggabungkan Perpustakaan? Hati-Hati, Kita Sedang Mengerdilkan Masa Depan

Efisiensi anggaran sedang menjadi arus besar di banyak pemerintah daerah. OPD dirampingkan, struktur digabung, belanja ditekan. Secara administratif, langkah ini bisa dipahami. Pemerintah memang dituntut bekerja efektif dan hemat. Namun ketika wacana penggabungan menyentuh OPD Perpustakaan , kita perlu bertanya dengan serius: apakah kita sedang menata birokrasi, atau tanpa sadar sedang mengerdilkan masa depan? Perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi buku. Ia adalah ruang tumbuh masyarakat. Di sanalah anak-anak belajar bermimpi. Di sanalah pelajar mencari referensi. Di sanalah pelaku UMKM mencari inspirasi usaha. Di sanalah warga belajar literasi digital agar tidak mudah terjebak hoaks. Jika pembangunan hanya dimaknai sebagai jalan, gedung, dan proyek fisik, maka perpustakaan memang tampak kecil. Tetapi jika pembangunan dimaknai sebagai peningkatan kualitas manusia, maka perpustakaan justru berada di jantungnya. Daerah yang maju bukan hanya yang infrastrukturnya kokoh, tetapi yang m...

Peta Jalan Perpustakaan Resilien: Dari Rutinitas Birokrasi Menuju Ekosistem Literasi Daerah

Perpustakaan daerah hari ini berada di persimpangan sejarah. Ia bisa memilih tetap nyaman dalam rutinitas administratif—atau bertransformasi menjadi organisasi yang tangguh, adaptif, dan relevan. Gedung mungkin berdiri. Program mungkin berjalan. Laporan mungkin selesai tepat waktu. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah perpustakaan kita sedang bertumbuh, atau hanya bertahan? Dalam konteks perubahan sosial, digitalisasi, dan tuntutan literasi abad ke-21, perpustakaan tidak lagi cukup menjadi unit kerja yang patuh prosedur. Ia harus menjadi organisasi resilienyakni organisasi yang mampu membaca perubahan, belajar dari tantangan, dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Fondasi Filosofis Resiliensi Perpustakaan Konsep resiliensi bukan sekadar jargon manajemen modern. Ia memiliki landasan teoritis yang kuat. Pertama, teori sistem terbuka dari Ludwig von Bertalanffy menegaskan bahwa organisasi hidup karena interaksinya dengan lingkungan. Jika lingkungan berubah dan organ...

Ketika Anak Bisa “Membaca”, Tapi Sebenarnya Belum

Suatu pagi di kelas dua sekolah dasar, seorang anak diminta membaca sebuah paragraf pendek. Ia mengeja perlahan, berhenti di beberapa kata, lalu melanjutkan lagi. Di akhir bacaan, guru tersenyum dan berkata, “Sudah bagus, lanjut latihan ya.” Anak itu naik ke kelas berikutnya. Namun beberapa tahun kemudian, ia kesulitan memahami soal cerita matematika. Ia lambat membaca teks pelajaran. Ia terlihat tidak percaya diri ketika diminta membaca keras di depan kelas. Masalahnya bukan di kelas lima. Masalahnya bukan pada soal yang sulit. Masalahnya mungkin sudah ada sejak kelas dua — ketika kemampuan dasarnya belum benar-benar kokoh. Itulah yang disebut decoding : kemampuan mengubah huruf menjadi bunyi secara tepat dan lancar. Ini adalah fondasi membaca. Jika fondasi ini tidak kuat, bangunan di atasnya akan goyah. Sayangnya, di Indonesia, kita belum memiliki sistem evaluasi decoding yang benar-benar terstruktur dan konsisten di kelas awal. Guru tentu menilai. Guru tentu memperhatikan. N...

Strategi Pengembangan Perpustakaan Daerah Berbasis Pemberdayaan Komunitas

Ketika Buku, Layanan, dan Komunitas Bertemu. Banyak perpustakaan hari ini berdiri rapi. Rak buku penuh, layanan berjalan, laporan selesai. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita ajukan: apakah perpustakaan itu benar-benar hidup? Pengalaman di banyak daerah menunjukkan, perpustakaan bisa saja lengkap dan tertib, tetapi tetap sepi. Bukan karena masyarakat tak butuh pengetahuan, melainkan karena perpustakaan belum sepenuhnya hadir dalam denyut kehidupan warganya. Di sinilah kita perlu menggeser cara pandang: perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan pengetahuan, melainkan ruang tempat pengetahuan diciptakan bersama. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan David Lankes melalui konsep New Librarianship. Ia menyebut bahwa misi pustakawan adalah memperbaiki masyarakat dengan memfasilitasi penciptaan pengetahuan di dalam komunitasnya. Kalimat ini sederhana, tapi dampaknya besar. Perpustakaan tidak lagi berdiri di atas menara gading, melainkan turun ke tanah—bersama warganya....

AI & PUSTAKAWAM. "ALAT BOLEH CANGGIH, EKSEKUTORNYA TETAP MANUSIA"

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering kali datang dengan dua reaksi ekstrem di kalangan pustakawan: kekaguman yang berlebihan atau ketakutan yang berujung pada penolakan. Ada yang melihat AI sebagai penyelamat semua persoalan perpustakaan, ada pula yang diam-diam cemas—takut tergantikan, takut tidak relevan, takut tertinggal oleh zaman. Padahal, posisi yang paling sehat bukan berada di dua kutub itu, melainkan di tengah: AI sebagai alat, pustakawan sebagai eksekutor. AI tidak pernah datang membawa nilai, visi, atau nurani. Ia hanya bekerja berdasarkan data, perintah, dan pola. Di sinilah pustakawan mengambil peran utama. Pustakawanlah yang menentukan untuk apa AI digunakan, siapa yang dilayani, dan nilai apa yang dijaga. Tanpa pustakawan, AI hanyalah mesin pintar tanpa arah. Sebaliknya, pustakawan tanpa alat akan bekerja lebih lambat, lebih berat, dan mudah tertinggal. Seperti tukang tanpa perkakas, niat baik saja tidak cukup. Dalam praktik keseharian, AI b...

REFLEKSI KEPALA SEKOLAH DALAM MEMAKNAI TALENTA MURID, "Berdasarkan Permendiknas Nomor 25 tahun 2025"

Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 Permendikdasmen Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid menegaskan bahwa satuan pendidikan bertanggung jawab mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengapresiasi talenta murid secara terstruktur dan berkelanjutan. Talenta dalam regulasi ini dimaknai sebagai potensi murid yang mencakup kemampuan, minat, kreativitas, dan karakter, yang berkembang melalui proses belajar dan pengalaman pendidikan, bukan semata-mata melalui capaian kompetitif. Sejalan dengan hal tersebut, sekolah perlu memandang perpustakaan sebagai bagian strategis dari ekosistem pengembangan talenta murid. Perpustakaan menyediakan lingkungan belajar yang inklusif dan fleksibel, tempat murid dapat mengeksplorasi minat baca, mengembangkan kemampuan berpikir, serta mengekspresikan gagasan melalui berbagai bentuk karya. Aktivitas literasi yang berlangsung di perpustakaan menjadi sarana alami untuk mengenali dan menumbuhkan talenta murid secara berkelanjutan. Permendikd...

SEKOLAH YANG SERIUS MENGELOLA TALENTA MURID TIDAK MEMBIARKAN PERPUSTAKAAN MATI

Tidak ada sekolah yang bisa mengklaim berhasil mengelola talenta murid jika perpustakaannya sepi, terkunci, atau hanya hidup saat akreditasi. Kalimat ini terdengar keras, tetapi justru di situlah aksi nyata manajemen talenta murid bisa dilihat dan diukur dampaknya. Ketika Permendikdasmen tentang Manajemen Talenta Murid diberlakukan, pesan negara sebenarnya sangat jelas: talenta murid tidak boleh dibiarkan tumbuh secara kebetulan. Ia harus direncanakan, difasilitasi, dan dihargai secara sistematis oleh sekolah. Dan pertanyaannya sederhana: di ruang mana semua itu paling mungkin terjadi secara adil dan berkelanjutan? Jawabannya bukan ruang kelas yang kaku, bukan pula panggung lomba yang selektif. Jawabannya adalah perpustakaan sekolah. Aksi Nyata Itu Terlihat, Bukan Ditulis Indah di Dokumen Sekolah yang sungguh-sungguh menindaklanjuti Permendikdasmen ini menunjukkan perubahan yang kasat mata. Perpustakaan yang dulunya hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, kini: ramai oleh murid ...

ASTA ETIKA PUSTAKAWAN: MENJAGA INTEGRITAS DI ERA HAK CIPTA

Koleksi Infografis Edukasi Anak Koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Bolmong Utara .   Dirancang dengan dukungan teknologi Artificial AI) di bawah kurasi pustakawan Asta Etika Pustakawan bukan sekadar delapan butir norma, melainkan kompas moral dalam menjalankan profesi secara bermartabat. Salah satu nilai penting yang sering luput disadari adalah penghormatan terhadap karya intelektual orang lain, sekecil apa pun bentuknya. Dalam praktik pembinaan perpustakaan—termasuk kepada perpustakaan binaan—pustakawan tidak dibenarkan membagikan, menggandakan, atau menyebarluaskan karya orang lain tanpa izin. Tindakan tersebut bukan hanya bertentangan dengan etika profesi, tetapi juga beririsan langsung dengan hak cipta yang kini semakin tegas diatur, termasuk dalam KUHP terbaru. Di era digital, niat baik sering kali terjebak pada jalan pintas: membagikan materi instan demi cepat, praktis, dan dianggap membantu. Padahal, tanpa disadari, hal itu dapat mencederai integritas pustakawan dan...

DARI PENJAGA RAK KE ARSITEK LITERASI : WAJAH BARU TENAGA PERPUSTAKAAN PASCA PERMENDIKDASMEN 21/2025

Selama bertahun-tahun, tenaga perpustakaan kerap dipersepsikan sekadar sebagai pengelola buku dan ruang baca. Namun, Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 menghadirkan perubahan mendasar: tenaga perpustakaan kini ditempatkan sebagai aktor strategis dalam ekosistem pembelajaran dan literasi . Regulasi ini menegaskan bahwa tenaga perpustakaan merupakan bagian dari Tenaga Kependidikan Selain Pendidik , dengan tugas utama mengelola perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Menariknya, regulasi baru ini tidak lagi menekankan kualifikasi akademik yang kaku , melainkan mengedepankan kompetensi berbasis performa : kepribadian, sosial, dan profesional. Pada aspek kepribadian , tenaga perpustakaan dituntut menjadi teladan literasi—berintegritas, reflektif, dan berorientasi pada mutu layanan. Artinya, perpustakaan tidak lagi netral dan pasif, tetapi aktif menumbuhkan rasa ingin tahu, berpikir kritis, dan eksplorasi mandiri peserta didik. Dari sisi kompetensi sosial , tenaga perpustakaan didoro...

Era BANI: Kerangka Global Baru dan Implikasinya bagi Perpustakaan Daerah

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Istilah BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible) pertama kali diperkenalkan oleh Jamais Cascio , seorang futuris global, sebagai pengembangan dari konsep VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous). Jika VUCA menggambarkan dunia yang tidak stabil, maka BANI menggambarkan dunia yang sudah melewati titik ketidakstabilan dan memasuki fase rapuh, emosional, dan sulit dipahami secara rasional. Era BANI muncul sebagai dampak dari: percepatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, krisis global (pandemi, geopolitik, iklim), disrupsi ekonomi dan perubahan sosial yang sangat cepat, serta meningkatnya ketimpangan akses informasi. Dalam konteks ini, perpustakaan daerah tidak lagi berada di pinggir perubahan , melainkan berada di titik krusial sebagai institusi yang menjaga daya tahan sosial (social resilience). 1. Brittle (Rapuh): Ketahanan Sistem yang Semu Secara global, banyak institusi publik terlihat kokoh secara struktu...

KETIKA SISWA MELOMPAT PAGAR, SEKOLAH SEDANG KEHILANGAN MAKNA

AUDIO DISKUSINYA SIMAK   DISINI Suatu hari, seorang siswa melompat pagar sekolah. Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, tetapi untuk bermain biliar di kantin dekat sekolah. Di sudut lain, sekelompok siswa ribut di kelas. Mereka bukan berkelahi, melainkan merekam podcast dengan antusias. Di belakang sekolah, dua siswa asyik bermain catur secara sembunyi-sembunyi. Di ruang komputer, ada siswa yang sebenarnya mahir coding dan desain grafis, tetapi dilarang masuk karena “belum waktunya”. Sementara itu, sebagian siswa memilih nongkrong di kantin, bukan karena lapar, melainkan karena pelajaran di kelas tidak lagi menarik. Ini bukan cerita fiksi. Ini potret keseharian sekolah kita. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah? Siswanya, atau sekolahnya? Membaca Perilaku Siswa sebagai Pesan Sering kali sekolah melihat perilaku siswa hanya dari kacamata disiplin: ·        Melompat pagar = pelanggaran ·        Ribut di...