Perpustakaan umum sesungguhnya tidak sedang kekurangan gedung. Tidak juga kekurangan rak buku, meja baca, atau kegiatan seremonial. Namun ada sesuatu yang perlahan hilang: relevansi. Di tengah dunia yang bergerak cepat, banyak perpustakaan masih berjalan dengan pola lama. Sementara masyarakat berubah, cara belajar berubah, cara membaca berubah, bahkan cara manusia mencari pengetahuan pun berubah. Ironisnya, sebagian perpustakaan masih merasa baik-baik saja. Padahal tanda-tanda krisis itu mulai terlihat: pengunjung berkurang, generasi muda semakin jauh, kegiatan ramai tetapi dampaknya kecil, dan perpustakaan perlahan kehilangan posisi pentingnya di tengah masyarakat. Tulisan ini bukan untuk menyalahkan perpustakaan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kegelisahan sekaligus harapan bahwa perpustakaan masih bisa bangkit jika berani berubah. Karena ancaman terbesar perpustakaan hari ini bukan era digital, melainkan kenyamanan dalam stagnasi. 1. TERLALU SIBUK MENJAGA BUKU, LUPA MENJA...